Ditulis pada tanggal 15 Agustus 2016, oleh admin, pada kategori Berita

IMG-20160808-WA0008Mahasiswa Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB), Alvath Tembria dan Agam Prayoga Brilianto, berhasil meraih Juara III pada kompetisi Design Challenge 2016bidang perumahan dan pemukiman yang diselenggarakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Timur.

Lomba yang rutin diadakan tiap tahun tersebut kali ini mengambil tema Desain Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Bundaran Waru sebagai Gerbang Kota Surabaya. Babak final diselenggarakan pada Kamis, 4 Agustus 2016, berbarengan dengan Pameran Perkembangan Teknologi Bahan Bangunan 2016 di ICBC The Square Ballroom, Surabaya.

Tampil sebagai finalis setelah menyisihkan 41 peserta lainnya diantaranya tim dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknoligi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Katolik Parahyangan Bandung (UNPAR), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan Universitas Brawijaya (UB).

“Alhamdulillah senang sekali karena konsep-konsep yang kami tawarkan bisa di terima oleh juri,” kata Alvath saat ditemui di gedung kuliah Jurusan Arsitektur, Senin, 8 Agustus 2016.

IMG-20160808-WA0005“Senangnya lagi, bisa presentasi di depan juri di acara yang besar kemudian dapat bertemu teman-teman baru dari universitas lain dan berbagi ide,” tambahnya.

Dalam kompetisi ini, Tim Arsitektur UB berupaya menjadikan desain bukan hanya sebagai RTH, melainkan hutan kota yang mengutamakan seminimal mungkin penggunaan perkerasan dan memfungsikan secara maksimal lahan peresapan.Kemudian mereka juga mendesain ruang bagi makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan untuk menjadikan iconic green city dari kota Surabaya.

“Kami terinsipari dari hutan kota yang di desain Pak Ridwan Kamil di Bandung, House for Trees yang di desain arsitek Vietnam Vo Trong Nghia Architects, dan desain Foot Bridge di area The EmQuartier Thailand,” katanya

IMG-20160808-WA0007Alvath melanjutkan, tim memaksimalkan peresapan dengan hanya menambahkan perkerasan pada site desain sebesar 1,8%. Jumlah sekecil itu didapatkan karena seluruh sirkulasi dalam site desain tim menggunakan tracking. Sehingga semua sirkulasi berada di atas tanah.

Kemudian, pada sekeliling site diterapkan teknik bioswale yang dapat menjadikan peresapan luar bagi air yang datang dari luar site. Sehingga, dapat memfilter air yang masuk. Tim juga membuat reservoir yang besar di tengah site dengan cara menggabungkan antara site yang terpisah oleh highway menjadi satu.

“Dan juga air dari bioswale dibawa ketengah menuju reservoir,” kata mahasiswa dari Mataram tersebut.

Dinas PU berharap, selain sebagai area peresapan, desain pada kompetisi ini dapat berfungsi sebagai landmark selamat datang kota Surabaya dan mengandung fungsi ekologis bagi kawasan di sekitarnyaSementara itu,  tampil sebagai Juara I sekaligus favorit adalah tim dari UI sedangkan Juara II diraih tim dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung.(and)

 

659 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini