Ditulis pada tanggal 27 Juni 2016, oleh admin, pada kategori Berita, Dosen

Masih segar dipemberitaan tentang tajuk mengenai Brexit. Menarik membaca bagaimana United Kingdom (UK) ‘kebelet’ keluar dari zona European Union (EU). Padahal jika ditelisik, tidak sepenuhnya juga sebetulnya UK ini terafiliasi dengan EU. Misal (mudahnya) seperti masih digunakannya Poundsterling dan tidak masuknya UK sebagai anggota Schengen sehingga bagi anda yang ingin ke ‘eropa’, buang jauh-jauh mimpi apply visa Schengen, bisa mampir sekalian ke UK.

 Yang paling mutakhir menariknya adalah kondisi suara di kalangan rakyat UK sendiri yang menginginkan keluar (leave) dan yang tetap ingin tinggal (remain). Terlihat suara ‘leave’ lebih banyak disuarakan oleh kalangan periphery yang nasionalis, sedangkan suara ‘remain’ lebih banyak dari mereka yang tinggal di perkotaan, terutama kota-kota dengan komposisi masyarakat multi-nasional. Faktor utama dari suara ‘leave’ ini mengemuka adalah monoton dan statisnya perkembangan UK selama ini. Berada di bawah bayang-bayang EU membuat riak globalisasi ekonomi dominan kental hanya dirasakan di perkotaan, hanya bagi mereka yang pintar dan memiliki kepentingan. Tentu saja, fenomena ini membuat para pemimpin di EU kalang kabut karena ke depan, mungkin saja akan muncul efek domino seperti Frexit, Nexit, Italeave dan seterusnya.

 Nah, berkaca Brexit, saya ingin mengaitkan ini dengan fenomena Program Profesi Insinyur (PPI) yang digawangi PII dan Program Profesi Arsitek (PPArs) oleh IAI yang saat ini sedang hangat-hangatnya dirumuskan.

fenomena exitSeperti yang kita ketahui, demi memenuhi tuntutan insinyur yang masih defisit, dan demi standar kompetensi insinyur kita agar dapat bersaing di MEA, maka diluncurkanlah PPI di beberapa perguruan tinggi (Menristekdikti). Patut disyukuri, Universitas Brawijaya juga kebahagian jatah untuk memfasilitasi program ini.

Namun mustinya patut diberikan rambu yang jelas antara PPI dan kesempatan Jurusan Arsitektur untuk mengembangkan kompetensi calon arsitek melalui PPArs. “Mengisi defisit” adalah satu kata yang sangat terkait dengan demand, dan implikasinya pada perputaran uang kuliah. Sebagian besar kebijakan membuka prodi baru pastinya mempertimbangkan hal ini. Beberapa program studi Arsitektur ‘besar’ awalnya memberanikan diri membuka program PPArs dengan berkaca pada program sejenis di luar (KAAB, NAAB dll), juga ingin memenuhi demand. Beruntunglah bagi jurusan arsitektur yang telah bernaung di bawah ‘nama’ Fakultas Teknik dan Perencanaan, atau bahkan telah menjadi Sekolah Arsitektur. Kebijakan dapat lebih fokus dan fleksibel untuk segera diejawantahkan.

Adanya PPI sudah barang tentu menjadi sebuah tanda tanya besar akan nasib PPArs jurusan arsitektur yang masih berada di bawah naungan fakultas teknik ke depan. Bisa jadi program ini hanya mimpi mengingat betapa mengguritanya jumlah insinyur dibanding jumlah arsitek (di kampus). Padahal sudah jelas perbedaan antara program profesi Insinyur dan program profesi Arsitek, sebagaimana yang sudah disepakati oleh pejabat teras PII dan IAI. Selengkapnya bisa dilihat dari dokumen yang diunggah oleh Aptari di sini (http://aptari.org/penjelasan-posisi-kelembagaan-pengembangan-profesi-arsitek/). Mempelajari dokumen ini, sudah jelas kiranya garis tegas pembeda antara Insinyur dan Arsitek, serta konsekuensinya ke kurikulum masing-masing.

 Mengapa hal ini perlu ditegaskan kembali? Karena seperti yang sudah-sudah, image pendidikan kita kurang begitu adaptable dengan perubahan cepat. Kebijakan yang dibuat saat ini memiliki implikasi yang besar di kemudian hari nanti. Sarat dengan konflik kepentingan. Bila tidak ditegaskan batas diantaranya, bisa jadi bias di kemudian hari. Yang ada adalah profesi arsitek tetap di bawah bayang-bayang kompetensi insinyur yang notabene sebenarnya juga masih ‘general’ bagi sebagian kelembagaan profesi lain di dalamnya mengingat bidang keinsinyuran yang begitu luas nan lebar. Kompetensi yang baik adalah kompetensi yang mengerti dengan baik dan benar bagaimana menempatkan diri sebagai operator sekaligus regulator dalam mengelola sistemnya sehingga melahirkan SDM tangguh di bidangnya. Bukan sekedar mengisi celah untuk memanfaatkan demand, dan ironisnya secara perlahan mensterilkan potensi masing-masing peran.

Jangan heran, mungkin saja dikemudian hari nanti fenomena Ars-xit bisa bermunculan seperti Brexit hari ini. Bukan sebagai bentuk (provokasi) ketidakpercayaan terhadap sistem, namun sebagai proses (proaksi) pembelajaran bahwa jika ingin maju, fokus menjadi modal penting dalam membangun bangsa.

 Semoga kita dapat segera meniscayakan PPArs UB. Kalau bukan sekarang, kapan lagi.

Wina, 21 Ramadhan 1437 H

Yusfan A. Yusran

1,213 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini