Ditulis pada tanggal 16 January 2014, oleh admin, pada kategori Berita

gaba2

Mendengar kata Gaba-gaba terasa cukup asing di telinga kita. Gaba-gaba merupakan sebutan bagi beberapa suku di bagian timur Indonesia untuk pelepah daun pohon sagu. Bahan ini sangat mudah didapatkan terutama di wilayah Papua, Maluku dan Sulawesi mengingat sagu bagi beberapa suku di sana merupakan bahan makanan utama dan untuk mendapatkan tepung sagu hanya memanfaatkan batangnya untuk diambil sari patinya saja. Oleh karena sedikit yang menyadari potensi gaba-gaba, maka bahan ini seringkali dibuang.

 Potensi ini dimanfaatkan oleh salah satu Dosen Arsitektur FT UB, Yusfan Adeputera Yusran untuk mengembangkan Gaba-gaba sebagai salah satu alternatif dinding akustik. Dengan melakukan pengujian akustik pada model maket rumah sederhana 1:10, terbukti gaba-gaba dapat menjadi alternatif dinding akustik. Penggunaannya sebagai dinding terinsipirasi dari masjid Wapauwe di Maluku yang menggunakan gaba-gaba sebagai dinding dan masih bertahan selama tujuh abad hingga saat ini.

 Hasil penelitian ini dipresentasikan pada International Conference of CEAASC di Seoul (8 – 10/1/2014) dengan judul makalah Gaba-gaba: An Alternative Acoustic Material (Initial Implementation in Small House). Presentasi ini mendapatkan apresiasi cukup besar dari panelis dan audiensi sehingga mendapat Preeminent Presentation Tribute dalam bidang applied science. Seminar ini sendiri dihadiri oleh para presenter dari berbagai bidang  dan dari berbagai belahan negara.

840 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini