Ditulis pada tanggal 12 September 2017, oleh admin, pada kategori Berita

Identitas suatu bangsa merupakan peranan penting dalam dunia Internasional. Identitas yang kuatlah yang mampu mempertahankan dan menjaga keutuhan suatu bangsa dari perkembangan globalisasi yang semakin perlahan memudarkan lokalitas budaya. Identitas suatu bangsa inilah yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lainnya. Identitas suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari budaya lokal, lingkungan setempat, serta masyarakat yang mendukungnya.

Upaya mempertahankan identitas budaya ini dapat diwujudkan dari berbagai sudut pandang, salah satunya dalam bidang arsitektur. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang, 7-8 September 2017 mengadakan konferensi internasional di Ballroom Hotel Atria Malang. Konferensi internasional ini adalah kolaborasi antara Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya dengan Technische Universitat Wien, Vienna, Austria. Selain itu juga bekerjasama dengan Universiti Teknologi Malaysia dan ITS sebagai Scientific Committee.

Konferensi ini mengusung konsep kearifan lokal yang dapat dilihat sebagai respon terhadap rasionalitas, dan kearifan lokal terhadap kesetempatan menuju universalitas. Acara ini mengangkat tema utama “Nusantara as The Basic of Smart Culture for Prospering Built Environment”, dengan tujuan untuk melibatkan partisipasi yang memiliki kepentingan dalam pengembangan kelestarian lingkungan di kawasan budaya, terutama di Asia Tenggara atau Nusantara.

Peserta pada konferensi ini melibatkan para peneliti, profesional, akademia, organisasi, badan LSM, pengembang, mahasiswa, dan lainnya yang memiliki minat di bidang perkembangan lingkungan berkelanjutan di daerah berbudaya. Jumlah peserta konferensi dari Universitas Brawijaya sendiri sekitar 230 mahasiswa pada setiap harinya, 12 orang dari luar Universitas Brawijaya yang meliputi anggota IAI Malang, mahasiswa dari Universitas Bung Hatta Padang, mahasiswa dari Desain Interior ITS, para konsultan arsitek, dan peserta dari Malaysia, 56 peserta undangan yang termasuk dosen S1 dan S2 Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya.

Konferensi internasional ini berlangsung dalam dua hari dengan subtema yang berbeda dengan menggunakan sesi paralel. Acara ini dimulai pukul 07.00-16.30, dibuka dengan pembacaan doa, sambutan dari ketua pelaksana yaitu Abraham Mohammad Ridjal, ST., MT, sambuatan ketua IAI Malang Bapak Sahirwan, sambutan dari Bapak Agung Murti Nugroho,ST.,MT.,Ph.D selaku ketua jurusan arsitektur FT UB, dan sambutan dari Dekan Fakultas Teknik UB yaitu Bapak Dr. Ir. Pitojo Tri Juwono, MT sekaligus pemukulan gong sebagai tanda dimulainya acara.  Pembukan konferensi ini turut pula dimeriahkan oleh penampilan apik tarian pembuka yaitu Tari Saman Universitas Brawijaya yang mendapat tepuk tangan meriah penonton.

Acara kemudian dilanjutkan oleh presentasi dari Nippont Paint sebagai sponsor acara. Kemudian berlanjut sesi materi dan diskusi dari dua keynote speaker dan lima invited speaker yang berasal dari empat negara yang berbeda. Pada hari pertama sesi ini dimoderatori oleh Dr. Yusfan A. Yusran, ST.,MT dengan keynote speaker pertama yaitu Prof. Erich Lehner dari TU Wien , Vienna, Austria. Prof. Erich Lehner membahas tentang “Aspects of Identity in Indonesian Building Traditions”. Dilanjutkan keynote speaker kedua yaitu arsitek Yori Antar yang membahas “Indonesian Archipelago, Unity in Diversity (17.508 Island, 560 Tribes)” Penyampaian materi dari Yori Antar mendapat antusiasme yang baik dari peserta. Terbukti dari tepuk tangan yang sering diberikan ketika Yori melontarkan kalimat bahwa Indonesia sangat kaya akan budayanya dan tidak kalah dengan luar negeri. Kemudian sesi ini diakhiri dengan penyampaian materi dari Bapak Agung Murti Nugroho., ST.,MT.,Ph.D sebagai invited speaker dari Universitas Brawijaya yang membahas mengenai “Science of Contemporary Nusantara Architecture”.

Sesi materi dan diskusi di hari kedua dimoderatori oleh Dr.Eng. Novi Sunu S. Giriwati, ST.,MT.,MSc, dosen Jurusan Arsitektur FT UB dengan invited speaker yaitu Prof. Riken Homma (Kumamoto University, Japan). Beliau membahas “How to evaluate and improve sustainable cityspace: A case study on castle town in Kumamoto”, kemudian dilanjutkan oleh Prof. Madya Dr. Mohd Zin Kandar (Universiti Teknologi Malaysia) membahas tentang “Maintaining Green for Modern Nusantara”, lalu materi oleh Dr. Ulrike Herbig (TU Wien, Vienna, Autria) tentang “Transformation of Traditional Architecture in Indonesia – A Concept for Holistic Approach”, dan invited speaker yang terakhir yaitu Dr. Susilo Kusdiwanggo, ST.,MT, dosen Jurusan Arsitektur FT UB dengan judul “Pattern of Spatial Movement to Build Vertical Space” yang membahas tentang pola pergerakan spasial pada beberapa candi besar di Indonesia dan mengulas seputar Kasepuhan Ciptagelar sebagai desa yang masih menjalankan adatnya. Acara siang itu juga dimeriahkan dengan penampilan musik dari Architecture Band.

Sesi selanjutnya yaitu sesi paralel yang dibagi menjadi 3 sesi dengan masing-masing moderator dan subtema yang berbeda. Makalah lengkap yang lolos proses pengkajian yang akan dipresentasikan. Pada hari pertama terdapat 15 pemakalah dan 16 pemakalah yang berbeda di hari kedua. Pemakalah datang dari universitas yang berbeda-beda di seluruh Indonesia, bahkan dari Malaysia. Mereka datang dengan antusiasme yang tinggi untuk mempresentasikan hasil penelitiannya yang berhubungan dengan tema. Bahkan terdapat pemakalah berkebutuhan khusus dari ITB dengan judul makalah “Universal Design Concept of Public Lecture Space in ITB Campus for The Students of Disabilities” juga turut hadir untuk mempresentasikan makalahnya dalam konferensi internasional ini. Hal tersebut membuktikan bahwa acara ini sangat diminati demi mewujudkan pengembangan kelestarian lingkungan di kawasan budaya, terutama di Asia Tenggara atau Nusantara.

Di penghujung acara terdapat penghargaan untuk presenter pemakalah terbaik yang dimenangkan oleh Nur Rahmawati Syamsiyah dengan judul “The Proportion Effect of Javanese Traditional Architecture in Reducing Noise, Case Study: The Great Mosque of Yogyakarta Royal Palace, Indonesia”. Kemudian acara ditutup oleh tari tradisonal dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya yang memukau para peserta konferensi.

Tradisi bangsa Indonesia yang masih bertahan hingga saat ini merupakan suatu kekuatan untuk mempertahankan identitas bangsa Indonesia ditengah pesatnya perkembangan terutama dalam bidang arsitektur. Upaya pelestarian budaya lokal menjadi tujuan utama, salah satunya dengan adanya Konferensi Arsitektur bertema nusantara dengan mengkaji dari berbagai sudut pandang dalam arsitektur mulai dari kearifan lokal, filosofi, warisan budaya lokal, serta identitas bangsa saat ini. Sehingga Indonesia mampu mempertahankan identitas bangsa ditengah memudarnya lokalitas bangsa terutama dalam bidang arsitektur.

154 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini