Ditulis pada tanggal 7 Juni 2013, oleh admin, pada kategori Jurnal

KARAKTERISTIK SPASIAL PERMUKIMAN
DI KAMPUNG GADING PESANTREN MALANG
Nurul Hidayati, Ir. Harini S., M.Eng, Dr. Agung M. N., ST., MT.
Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jalan MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia
E-mail: nurul0509@gmail.com
Abstrak

Permukiman tidak hanya sebagai wadah fisik maupun sebagai tempat perlindungan, tetapi juga merupakan bagian dari kehidupan komunitas dan keseluruhan lingkungan sosial. Permukiman berkaitan erat dengan masyarakat yang berbudaya, sehingga susunan dan tata ruang rumah dianggap sebagai perwujudan suatu nilai dan perilaku budaya komunitas yang menempati dan menggunakannya. Demikian pula halnya dengan Kampung Gading Pesantren di Kota Malang yang terdapat Pondok Pesantren yang berumur lebih dari 2 abad. Keberdaan pondok pesantren ini juga akan berpengaruh pada spasial permukimannya. Dalam fokus permasalahan pembahasan yang lebih sempit, Kampung Gading Pesantren ini memiliki keunikan, yaitu sebagai permukiman rakyat yang dipengaruhi secara kuat oleh karakter budaya dan sistem religi sehingga melahirkan perwujudan ruang dalam zoning berdasarkan faktor gender.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif untuk menganalisa karakteristik spasial pada kampung Gading Pesantren Malang dan faktor-faktor yang mempengaruhi spasial terutama dari sosio-kultural. Metode analisis deskriptif berupa penggambaran dan pemaparan hal yang akan dianalisis.

Karakteristik spasial yang terbentuk pada kampung ini disebabkan adanya jalan pada area pesantren (pembangunan Masjid Baiturrahman di tepi jalan kampung) sebagai jalan bagi penduduk yang akan menuju rumah tinggal mereka. Jalan tersebut merupakan jalan pondok pesantren yang pada mulanya digunakan para santri dan Kiayi beserta keluarganya digunakan sebagai akses utama menuju masjid pondok pesantren.

Terdapat pembagian zona jalan, jalan publik (jalan raya di kampung), jalan semi publik (jalan kampung) yang memiliki karakter lebar jalan 3-6 meter yang dapat dilalui kendaraan bermotor, jalan prifat (gang buntu) yang memiliki lebar 1-2 meter. Jalan yang bersifat prifat lebih disukai penduduk putri untuk melaksanakan ibadah di masjid.

Terdapat ruang sosial yang dibedakan atas perbedaan gender yaitu terdapat kegiatan pengajian, khataman, sholawat nabi tersendiri antara penduduk wanita dan penduduk laki-laki. Kegiatan tersebut dilakukan berkeliling dari rumah ke rumah dengan memanfaatkan ruang tamu, ruang keluarga, hingga ke teras rumah warga.

Kegiatan keagamaan sering dilakukan dengan memanfaatkan jalan sebagai ruang pengajian, sholat idul fitri, sholat idul adha. Jalan yang digunakan untuk kegiatan tersebut memiliki karakter terdapat penutup atap permanen dari bahan fiberglass sebagai peneduh yang memiliki sisi negatif yaitu sirkulasi udara dan pencahayaan pada area tersebut kurang lancar.

Pada titik pertemuan kampung sering dipakai penduduk laki-laki untuk bersilaturahmi antar penduduk yang kurang terwadahi dengan elemen arsitektur seperti shelter yang dapat membuat nyaman penduduk.

Kata kunci: spasial, permukiman, kampung muslim

Selengkapnya klikĀ DISINI

504 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini