Ditulis pada tanggal 6 Januari 2016, oleh admin, pada kategori Berita, Dosen

Wina – Menarik membaca Kompas (online) hari ini, 1 Januari 2016 tentang Indonesia defisit Insinyur. Masalah ini sebenarnya isu lama yang di blow up kembali, menanggapi keseriusan pemerintah saat ini yang sangat bersemangat untuk membuka akses dari pinggiran dengan prioritas pembangunan infrastruktur. Menarik apanya? Kita sama-sama tahu, hampir semua universitas di Indonesia setidaknya pasti memiliki program studi yang menghasilkan lulusan calon Insinyur. Terdaftar (forlap dikti) 529 universitas, 123 institut, 238 politeknik, belum termasuk 2000an sekolah tinggi dan 1000an akademik! Jika dihitung kasar, berapa kira-kira jumlah lulusan insinyur yang dihasilkan hingga saat ini? Memang disadari (PII) pula bahwa hanya 40% saja yang bekerja sesuai bidangnya. Terus dimana salahnya?

2016 ini menjadi awal nyata diimplementasikannya MEA, dan masalah ini masih akan terus menggelayut di jagad perinsinyuran. Tidak mengherankan pula akhirnya muncul bakal kebijakan-kebijakan populis seperti tunjangan hingga ratusan juta yang digagas PII sampai insentif untuk fakultas teknik. Namun sayangnya jika ditilik mendalam, kebijakan ini berporos pada satu organisasi profesi saja. Sementara di sisi lain timpang, seolah-olah politisasi juga sudah menjalar ke dalamnya. Bisa kita lihat dari ruwet bin rumitnya pembahasan RUU Arsitek hingga saat ini. Padahal ironi Arsitek sendiri selain bersaing dengan arsitek bule, mereka juga bersaing dengan ahli bangun otodidak aka tukang.

we can do itBerkaca pada Si Doel (Anak Sekolahan), kita sadar, permasalahan pendidikan ke-Insinyur-an tidak hanya bertumpu pada penyelenggara, dalam hal ini khususnya penyelenggara pendidikan tinggi. Faktor penentu utama sebenarnya ada di diri masing-masing mahasiswa. Kemauan tanpa diikuti kerja keras pasti cuma menjadi mimpi di siang bolong. Berikut contoh nyata tentang fenomena ini.

Pernah suatu saat, saat seorang mahasiswa asistensi ke saya tentang metode desain, saya menyarankannya untuk membaca Poetics of Architecture. Si mahasiswa balik nanya, ‘Itu pake bahasa apa Pak?’, saya seloroh ‘Bahasa Jawa!’. Si mahasiswa menggerutu. Di waktu lain, saat saya mengajar MK Arsitektur Nusantara tentang arsitektur Jawa yang kebetulan referensinya dari Serat Centhini. Salah satu mahasiswa bertanya ‘serat iku opo Pak?’ saya seloroh ‘Boso Enggris, Bro!’. Sekelas menggerutu. Wolak ‘walking’ jaman.

Di kesempatan lain, saya memberikan materi ke beberapa mahasiswa arsitektur calon peserta PKM. Karma, saat itu saya yang menggerutu! Gerutu saya saat itu disebabkan oleh banyaknya peserta yang lolos PKM-KC dengan tema seputaran desain dipelopori oleh prodi-prodi non teknik, dan ironisnya tidak ada satupun dari mahasiswa (arsitektur) yang peka terhadap fenomena-fenomena seperti itu.

 Gambaran di atas merupakan gambaran jelas ke-kurang-mau-an mahasiswa (dan) kita untuk terus menggali ilmu. Kebanyakan mahasiswa merasa cukup dengan apa yang dia dapatkan di kelas, dengan teori-teori yang menyolot lewat beamer. Tidak bernafsu untuk membedah lebih dalam, lebih-lebih memikirkan potensi sekitarnya untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai bagi masyarakat. Kita sering menutup mata terhadap perkembangan di luar sana, lebih fokus pada pemecahan masalah saat ini, kurang visioner. Sementara para Insinyur di luar sana sudah melakukan pemetaan dan siap menerkam. Ditambah lagi dengan fenomena ‘Rayuan Pulau Tetangga’ yang membajak tenaga-tenaga muda terbaik kita dengan bujukan beasiswa/gaji menggiurkan.

Kondisi dalam negeri pun tidak terlalu berpihak bagi lulusan ‘segar’, dengan skill pas-pasan. Dengan segala keterbatasan, musti harus selalu sabar dengan ‘term and condition’ yang berlaku, ‘Nrimo’ bahasa halusnya. Yang pada akhirnya give up untuk terus menekuni keahliannya. Padahal dengan menambahkan skill (mis. komunikasi) yang mumpuni, tidak menutup kemungkinan MEA itu bukan lagi menjadi tantangan, namun sebagai peluang melebarkan sayap.

Nah, inilah yang perlu sama-sama kita siapkan. Di sisi pendidik, kita musti menyiapkan tenaga yang handal. Modalnya? dengan amunisi referensi yang mutakhir dan mumpuni. Kita musti pula sering keluar melihat. Sepakat, kita musti memprioritaskan lokalitas, namun ide-ide lebih banyak akan muncul saat kita melihat dunia luar. Dengan conference, itulah kesempatan kita untuk review kemampuan kita dalam menulis, membaca, berbicara, sekaligus melihat dunia lebih luas. Dengan pengabdian ‘nyata’, saat itulah teori yang kita ajarkan harapannya dapat tepat guna di masyarakat.

Di sisi mahasiswa, selain luangkan waktu menjelajah dunia luar (baca: Passport by Kasali), kita musti menyiapkan diri di tengah persaingan global dengan (hard dan soft) skill yang mumpuni. Dengan mencari lebih dalam di luar, niscaya lebih mengasah kemampuan kita membaca fenomena, yang akhirnya memantik kreatifitas. Keluar dari kenyamanan, dengan kemauan yang keras, tantangan apapun pasti bisa terlewati. If you want to, you’ll find the way. If you don’t want to, you’ll find excuses.

1 Januari 2016
Yusfan Adeputera Yusran, ST., MT (Dosen; Alumni)
(http://yyusfan.wix.com/justfun)

791 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini