Ditulis pada tanggal 2 April 2018, oleh indah afifa, pada kategori Berita

arsiDanang Jatiningtyas mengunjungi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB) untuk memberi kuliah tamu Metodologi Desain bertajuk “Blast Design – Blast Resistant Building”, Kamis (23/Mar/2018) bertempat di Auditorium Prof. Ir. Suryono, Lt. 2 Gedung FT-UB.

Sebelum kuliah tamu dimulai, Dr. Susilo Kusdiwanggo, ST., MT., selaku Ketua Panitia memberikan kesempatan kepada kelompok PARADESC (Garda Ady Yasa, M. Wildan Ilham, dan Ratna Arianda Juwita) dan URBAN DISASTER – JOGJA (Teva Delani, Apriani Alifi, dan Winda Ratnasari) memaparkan hasil kerja dan prestasi mereka. Mahasiswa Arsitektur angkatan 2014 dan 2015 antusias mengikuti acara.

Hadir untuk membuka acara Ketua Jurusan Arsitektur FTUB, Dr. Eng. Herry Santosa, ST., MT. “Semoga acara seperti ini dapat dilakukan tiap tahun, sesuai dengan tema mata kuliah ini, membawakan materi klasik tetapi penting untuk diketahui,” ujarnya.

Didapuk sebagai pembicara, Danang Jatiningtyas adalah Senior Building Engineer – PT. Tripatra, Tangguh Expansion Projectt – British Petroleum. Ia membawakan 2 materi yaitu “Membaca Building Code Menjadi Design Requirement” dan “Paparan Proyek dan Pengalaman Lapangan”. Dalam memberikan materinya Danang mempertegas bahwa Arsitek harus memperhatikan dan mengacu pada Building Code.

Building code merupakan peraturan undang-undang baik daerah maupun internasional untuk arsitek sebelum mendesain. Sesuai dengan tema Blast Design – Blast Resistant Building, biasanya digunakan untuk keperluan militer, utamanya untuk mencegah korban jiwa dan teroris. Selain itu bangunan menjadi lebih aman dengan memperhatikan aspek aspek struktural.

Danang juga memaparkan hasil proyeknya yaitu DSL rumah permanen di Sulawesi dan Tangguh Expansion Project. Ia juga memberikan gambaran mengenai cost untuk satu kali design, dari yang termahal hingga termurah.

“Memang bangunan yang layak dengan tema Blast Design – Blast Resistant Buildingmenggunakan desain dome. Tapi memang tidak menutup kemungkinan pembangunannya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan waktu lama. Bisa juga menggunakan desain persegi yang terlihat mudah, tetapi tidak sesuai dengan ekspetasi, tetap saja butuh biaya yang tinggi dan waktu lama juga, paling cepat 1 tahun,” ujar Danang sambil tersenyum.

arsi2Acara ditutup oleh Kaprodi S1 Arsitektur, Ir. Heru Sufianto, M. Arch. St, Ph.D. Ia berharap agar kuliah tamu ini bisa menjadi motivasi bagi mahasiswanya. “Menjadi Arsitek itu minimal harus tahu aspek-aspek struktural, tanpanya akan susah mendapatkan izin mendirikan bangunan,” ujarnya. (gdp/mic)

96 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini