Ditulis pada tanggal 6 Mei 2013, oleh admin, pada kategori Jurnal

GREENHOUSE BERTINGKAT PADA PUSAT PENELITIAN HORTIKULTURA DI MALANG

Prayuda Akbar_Tito Haripradianto_Damayanti Asikin
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya,
Jalan MT. Haryono 167, Malang 65141, Indonesia
Email: prayuda8@gmail.com

           Wacana krisis pangan global makin menghangat akhir-akhir ini, berbagai media lokal dan internasional mulai ramai memberitakan berbagai hal yang berkaitan dengan masalah ini. Melambungnya harga pangan dan beberapa peristiwa kelaparan yang saat ini terjadi di belahan dunia memang bukanlah kejadian yang baru, namun intensitasnya akhir-akhir ini memang membuat miris.

           Krisis pangan global juga dipicu dengan keterbatasan lahan, alih fungsi lahan sawah dominan terjadi di pulau Jawa. Masalah lahan pertanian akibat konversi yang tidak bisa dibendung menjadi tambah serius akibat distribusi lahan yang timpang. Ini ditambah lagi dengan pertumbuhan penduduk di perdesaan akan hanya menambah jumlah petani gurem atau petani yang tidak memiliki lahan sendiri atau dengan lahan yang sangat kecil yang tidak mungkin menghasilkan produksi yang optimal, akan semakin banyak. Lahan pertanian yang semakin terbatas juga akan menaikan harga jual atau sewa lahan, sehingga hanya sedikit petani yang mampu membeli atau menyewanya, dan akibatnya, kepincangan dalam distribusi lahan tambah besar.

           Menghadirkan sebuah konsep pertanian vertical. Sistem penanaman tanaman yang dipakai dalam sistem vertical dengan menggunakan media penumbuh tanaman berupa greenhouse dengan teknologi aeroponik dan hydroponik. Sistem vertikal ini dikombinasikan dari system vertical farm yang dikenal sekarang ini sebagai suatu solusi yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah-masalah pertanian yang telah dikemukakan diatas. Vertical farm sendiri menggunakan sistem pertanian dengan teknologi inovatif untuk menghasilkan produk pangan yang lebih baik dan sehat.

           Sistem vertical farm ini digabungkan dan dikombinasikan menjadi bangunan pusat riset, karena Indonesia terutama kota Malang dinilai masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya dengan menggunakan sistem pertanian horizontal. Namun cepat atau lambat, lahan yang ada akan menjadi lebih sedikit untuk digunakan sebagai lahan pertanian, sehingga Pusat Penelitian Hortikultura muncul sebagai gebrakan untuk mengantisipasi masalah tersebut, hingga ketika masalah keterbatasan lahan muncul di Indonesia.

Kata kunci : pusat penelitian, pertanian vertikal, material, pencahayaan alami

Selengkapnya dapat klik disini

664 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini