Ditulis pada tanggal 2 February 2019, oleh indah afifa, pada kategori Berita, Kegiatan

“Prospek Profesi Arsitek di Indonesia Paska Terbitnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Arsitek” menjadi tema dalam Loka Karya yang diselenggarakan oleh Jurusan Arsitektur pada Hari Rabu tanggal 30 Januari 2019. Kegiatan ini berlangsung sekitar 6 jam dimulai dari jam 08.00-14.00. Acara ini dibuka dengan tari malangan, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Yang menjadi pembicara dalam kegiatan kali ini adalah : 1. Wahyu Imam Santoso, ST., MT dari Subdit. Standarisasi & Kelembagaan, Kementerian PUPR, 2. Ir. Endy Subijono, AA sebagai praktisi Architect Asia, 3. Fadillah Putra, S.Sos., M.Si., M.Paff., Ph.D dari Ketua PSLD UB, dan 4. Ir. Sahirwan, IAI dari Ketua IAI Malang.

Acara ini terbagi dalam 2 sesi. Dalam sesi pertama, Ir. Endy Subijono, AA sebagai praktisi Architect menjelaskan bahwa Arsitek itu adalah profesi yang luhur dan profesional yang telah dikenal puluhan tahun. Beliau memaparkan salah satu tentang keistimewaan Undang-undang No. 6 Tahun 2017 tentang arsitek yang diyakini bisa menghargai seseorang menjadi arsitek meskipun pendidikannya bukan berlatar belakang arsitektur. Narasumber yang kedua dalam sesi yang sama yaitu Ir. Sahirwan, IAI. Menjelaskan tentang kasus-kasus yang sangat menarik tentang Praktik Pendidikan dan Keprofesian Arsitek dengan adanya Undang-Undang RI nomor 6 tahun 2017  tentang Arsitek.  Ir. Sahirwan, IAI menambahkan bahwa lulusan arsitek yang ingin mendapatkan SKA harus mendaftarkan karya yang sudah terbangun dan beberapa persyaratan lainnya. Pada sesi kedua membahas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14 tahun 2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan yang menampilkan berikutnya Fadillah Putra, S.Sos., M.Si., M.Paff., Ph.D sebagai ketua PSLD, beliau menjelaskan tentang kemudahan aksesibilitas yang ada di Universitas Brawijaya untuk difable. Beliau juga menjelaskan bahwa akses untuk difable di Universitas Brawijaya ini masih kurang (sekitar 3%) dan untuk itu bangunan dengan aksesibelitas untuk difabel dirasa sangat perlu karena ada beberapa mahasiswa, civitas akademika disabel yang memerlukan akses tersebut. Kemudian pemateri kedua, Wahyu Imam Santoso, ST., MT memaparkan tentang kriteria desain gedung untuk disabilitas (Universal Design). Beliau menjelaskan bahwa semua orang punya hak untuk mengakses bangunan gedung, tidak ada diskriminasi. Arsitek mempunyai peran yang luar biasa dalam hal ini.

Bertempat di Aula Suryono Gedung Dekanat Fakultas Teknik lantai 2, kegiatan ini berlangsung selama 6 jam. Selain dihadiri oleh dosen dan mahasiswa arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, kegiatan ini juga dihadiri oleh Ketua Ikatan Arsitektur Indonesia Cabang Malang, Ketua Jurusan STT Malang, Ketua Jurusan Universitas Tri Tungadewi Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim, Universitas Negeri Malang, dan Institut Teknologi Nasional Malang dengan antusias yang cukup tinggi pada saat kelas maupun saat sesi tanya jawab.

Di akhir acara diadakan game online yang mengasah pengetahuan mahasiswa dan audience seputar arsitektur, Undang-undang Arsitektur dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Hal ini membuat kegiatan ini semakin semarak dan menarik.

627 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini