Ditulis pada tanggal 5 Maret 2018, oleh indah afifa, pada kategori Berita

Ars1Garda Adi Yasa, Ratna Arianda, dan M. Wildan Ilhami dari Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya persembahkan prestasi tertinggi di Parahyangan Design Competition (PARADESC) 2018. Ruang kelas di Jurusan Arsitektur UNPAR menjadi saksi perjuangan ketiganya mempresentasikan karya mereka bersaing dengan puluhan peserta dari seluruh Indonesia, (01/Mar/2018). Pada Malam Pemberian penghargaan mereka berhasil membawa pulang hadiah utama.

PARADESC (parahyangan Design Competition) adalah sayembara arsitektur yang diselenggarakan secara tahunan. Tahun 2018 PARADESC mengangkat tema “ Beyond Urban Motion”, yang mengajak mahasiswa arsitetur mendalami potensi dan permasalahan yang timbul akibat pembangunan di kota besar yang pesat. Mahasiswa dituntut untuk memberi solusi dan gagasan sesuai dengan fungsi dan kontes tempat, waktu, dan budaya setempat.

Issue utama yang diangkat adalah pembangunan LRT sebagai infrastruktur yang digagas pemerintah untuk mengatasi kemacetan di kota-kota besar. Transportasi berbasis rel ini digadang menjadi katalis pembangunan kawasan urban yang membentuk langsung wajah suatu daerah. Mahasiswa dipersilahkan memberikan visi dan menciptakan design terbaiknya dalam pembentukan infrastruktur LRT.

Karya tim UB sendiri bertajuk STASIUN MERDEKA “LIVING NETWORK”. Mengangkat fenomena di Indonesia sedang menggalakkan sistem TOD (Transit Oriented Development) untuk mempermudah mobilisasi bagi masyarakat. Akan tetapi, perkembangan TOD di Indonesia kebanyakan menggunakan single mass dan tidak merespon pada konteks lingkungan di sekitarnya sehingga penggunanya tidak merasakan pengalaman ruang.

Jalan Merdeka Kota Bandung merupakan salah satu titik yang akan dilengkapi dengan Sistem  LRT. Jalan Merdeka merupakan pusat Kota Bandung yang berada pada kawasan pendidikan, kantor pemerintah, dan taman publik dengan akses darimana saja. Lokasi tapak sendiri berada di antara Taman Balai Kota Bandung dan SD Banjarsari dan dihubungkan oleh jembatan penyeberangan. Desain yang akan dirancang diharapkan tetap memberi Kesan Ruang yang menyatu dengan sekitarnya.

Dalam rancangan Tim UB, pada area taman terdapat dua pohon beringin yang telah mengakar pada taman, tetapi hal tersebut bukanlah obstruksi dalam perencanaan Stasiun LRT. Pohon akan menjadi penanda dan Landmark Stasiun LRT dan Taman Balai Kota. Begitu juga dengan konsep Open Space, tidak terdapat selubung yang menghalangi view antara Taman Balai Kota dengan area stasiun LRT. Hal ini membuat Stasiun LRT menjadi satu kesatuan yang dapat dikatakan sebagai Stasiun yang terasa Taman.

Dengan konsep dan desain yang dipresentasikan, tim UB berhasil memenangkan hati dewan Juri yang terdiri dari; Ir. Achmad D. Tandiana, MUD (Urbane Bandung), Dr.Ing. Ir. Heru Wibowo Poerbo, MURP (PSUD Bandung), Ir. H. Achmad Noerzaman, MM, IAI, dan Anindhita N. Sunartio, ST., MT., IAI. (Wasiska Iyati, ST., MT/emis)

70 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini