Call Us on +62-341-551611 ext: 126
Arsitektur Universitas Brawijaya
deneme bonusu
Casino Siteleri
bedava bonus


1xbet
supertotobet

Pendik Escort
1xbet
casino siteleri
supertotobet
marmaris escort

Mental yang Méntal

  • Berita,
  • 16 August 2016
  • Posted by Admin
71thindonesia

Pecah!!! Rekor menteri tercepat…dan bandara baru diresmikan kebanjiran!

Memang bangsa kita ini adalah bangsa yang belajar dari kejadian. Bukan hanya sekali, terhitung berulang kali kejadian serupa dimana pencegahan, perbaikan, peninjauan dan lain sebagainya, dilakukan setelah kasus terjadi. Positif(selalu)nya, ini adalah pembelajaran! Tapi sampai kapan jawaban retorik nan populis ini mau dipakai?

Sudah seyogyanyalah kita introspeksi diri. Menetapkan sesuatu terlebih dahulu perlu dipertimbangkan matang baik-buruknya, perlu ditelusuri dulu maslahat-mudaratnya. Meminjam bahasa tekniknya, perlu kajian yang komprehensif dan profesional agar segala tindak tanduk yang dilakukan nantinya sesuai dengan aturan dan tidak menjadi celah(ka) di kemudian hari.

Mari kita tilik, melihat kilas kejadian-kejadian berikut untuk menjadi bagian pembelajaran bagi kita.

Pertama, kita bersama pastinya tahu seseorang untuk ditunjuk sebagai seorang menteri pastilah sudah direkam track record-nya dengan baik. Sebagian menyebut kecolongan. Tapi ini bukanlah sebuah kecolongan, namun kembali lagi sebuah gambaran yang tersaji jelas bahwa Mental masih menjadi momok bangsa kita untuk maju. Mental masing-masing kita yang masih menjunjung tinggi strata (status-pangkat-jabatan) dan menghalalkan segala cara agar status itu diraih. Padahal gampang saja bukan jika sebelum jadi menteri, ybs yang lulusan terbaik teknik pemilik 3 paten desain offshore ini mengatakan dengan jujur perihal tersebut. Atau kemarin lusa segera mundur. Toh, 20 tahun di negeri orang dan kemudian memiliki paspor WNA mustinya sudah paham betul konsekuensi tentang keputusan memegang dwi paspor. Hampir 3 tahun ini saja di negeri orang, membuat saya paham betul begitu peliknya berurusan dengan imigrasi mereka. Apalagi saat harus memperpanjang ijin tinggal secara berkala pertahun, membuat salah satu kawan saya seperti merasakan dementor saat masa berlaku ijin tinggalnya semakin mendekati habis.

Beliau dengan kapasitas dan prestasinya, merupakan salah satu anak bangsa lulusan terbaik teknik yang berhasil melebarkan sayapnya di mancanegara. Dikirim ke Amerika dengan harapan sekembalinya nanti membenahi salah satu BUMN sekarat saat itu, malah segudang ide segarnya ditertawakan saat pulang ke tanah air. Akhirnya dia balik badan, mengejar S3-nya. Banyak contoh diaspora seperti beliau, yang saat ini tersebar di seluruh penjuru dunia yang juga menunggu ‘kapan dipanggil ibu pertiwi’.

Lho, kok dipanggil? Sedikit cerita dari dua kawan seperjuangan saya di sini menggambarkan fenomena ini. Satunya saat itu menjadi PhD termuda Indonesia di Wina dan satunya lagi sedang on-going. Mereka berdua memiliki idealisme yang tinggi dan ingin sekali suatu saat nanti kembali ke tanah air dan mengabdikan ilmunya untuk ibu pertiwi. Namun, kembalinya mereka, jika pada akhirnya menjadi dosen, cuma ingin mengabdi di salah satu kampus teknik ternama Indonesia, almamater mereka dulu sewaktu S1. Keyakinan mereka adalah bahwa iklim keilmuannya hanya bisa berkembang biak dengan baik di situ. Mereka berdua bahkan sama sekali tidak ingin mempertimbangkan bahwa di belahan pulau Indonesia yang lain banyak kampus yang membutuhkan orang muda seperti mereka. Dan akhirnya saat ini karena cukup bejibunnya saingan di kampus S1-nya, sang doktor muda memilih untuk mencari penghidupan sebagai postdoc di belahan bumi yang lain, yang pastinya lebih menawarkan penghidupan (salary) yang menggiurkan. Sedang sang calon doktor, memperpanjang termin kontrak kerjanya di lab, menunggu pekerjaan yang jelas honornya menggiurkan. ‘Toh, apa gunanya pulang dan hanya menjadi asisten lab, itupun tidak jelas kapan diangkat, belum lagi honornya, kayak lalu lintas di Jakarta, belum lagi sistem, yang masih ‘kolot nan birokratik’, kata mereka. Paradigma ini kebanyakan menghinggapi benak anak bangsa, yang saat gelar master atau doktor diraih, mengurungkan niat untuk segera pulang membangun bangsa. Di dalam benak mereka, dan juga para birokrat, aristokrat, utamanya priyai bisnis di negara ini, titel doktor masih dianggap ‘kurang aplikatif’, physically kurang bisa bekerja, bekerja pun di ranah intangible (unreal sector) dan….muahal!

Sekelumit cerita di atas menggambarkan kepada kita bahwa di luar sana, begitu banyaknya diaspora yang enggan untuk balik karena iklim penerimaan kita terhadap budaya meneliti dan penghargaan terhadap hasil penelitian masih rendah. Bisa kita lihat dari contoh nyata banyaknya lulusan doktorat muda yang belum memiliki tempat mengabdi, tidak bisa berbuat apa-apa saat kembali ke tanah air. Bukan salah Bunda mengandung(?).

Kedua, Soetta T3neo atau T3ultimate atau apapun namanya, mempertontonkan kepada dunia bagaimana proses evaluasi penyelesaian sebuah megaproyek di Indonesia tidak terselesaikan dengan baik dan profesional. Bukan anak kemarin sore, nama-nama para konsultan yang terlibat dalam konsorsium di dalamnya. Bukan pula isapan jempol, bahwa proyek ini menggunakan teknologi mutakhir untuk sebuah standart airport internasional. Nah, permasalahannya, kejadian ini mengingatkan kita kembali dengan kejadian kebakaran terminal 2 tahun lalu. Bedanya, dulu kita berurusan dengan api akibat kabel tua korslet yang mustinya bisa dihindari jikasanya secara berkala dipelihara dan dipasang dengan benar. Dan celakanya, sekarang kita berurusan dengan air yang mampet akibat sampah yang secara Mental mustinya dibuang pada tempatnya, tapi karena keburu-buru, dibuang di saluran air (teringat dengan kasus kabel nyumpal saluran di bawah istana Negara). Semoga saja, kita doakan bersama nantinya Soetta tidak berurusan dengan angin, atau bahkan batu…amit-amit!

Kedua deskripsi singkat di atas mendeskripsikan bahwa Mental masih menjadi PR kita yang paling sulit diselesaikan. Di satu sisi, mentalitas generasi kita musti dipersiapkan agar tahan banting dan cinta tanah air. Bersyukur saat ini ada beasiswa LPDP dengan pembekalannya yang cukup membuat para dosen ‘tua’ keder melihat proses kaderisasinya, dengan harapan 2045 generasi muda ini bisa menggerakkan Indonesia menuju zaman emasnya. Tapi melihat fenomena di atas, bisakah? Siapkah kita menerima mereka? Lebih detil lagi, sudah siapkah kita menerima perubahan yang dibawa pada pemuda pemudi ini nanti? (teringat fenomena gojek dan sejenisnya).

Di sisi lain, mentalitas kita dalam menyelesaikan pekerjaan apapun itu mustinya terstruktur secara profesional. Sebagai gambaran, di Wina sini, kebetulan pekerjaan renovasi di samping blok rumah susun tempat saya tinggal barusan selesai. Saya melihat pekerjaan tukang begitu lambat. Jika dibandingkan dengan Pak tukang kita di tanah air, kalah cepat. Tapi mereka profesional. Mereka bekerja sesuai dengan waktu yang ditentukan. S-curve saat akhir proyek tetap berbentuk S, bukan Z atau bahkan M, yang di negeri kita biasanya terjadi dan kebanyakan akhir-akhirnya berMasalah. Entah itu saat baru saja diresmikan atau beberapa tahun ke depan, seperti di Soetta. Tinggal menunggu waktu saja. Pak tukang kita hebatnya secara adaptable and easily dapat dikondisikan untuk mengejar progress quickly atau slowly. Tinggal ‘dimainkan’, sesuai termin, sesuai ‘pencairan’. Lembur menjadi kata kunci manakala RKS tidak sinkron dengan S-curve, termin tidak sefleksibel RAB dan addendum berkejaran dengan waktu peresmian. Akhirnya sudah bisa kita tahu bersama kan bila pekerjaan dikerjakan dengan terburu-gesa. Tidak fokus. Amburadul.

Tukang di sini dibayar secara professional. Hitungannya perjam. Tidak heran target tiap hari terpenuhi. Dari tahapan persiapan pekerjaan, pelaksanaan, hingga evaluasi terlihat begitu bersih. Material sebelum dan bekas pakai pun tidak berserakan. Segera setelah pekerjaan hari itu selesai, mereka bersihkan dan angkut ke tempat pembuangan di luar kota. Tidak dibuang di tanah kosong sebelah rumah. Padahal pekerjaan renovasi ini skala kecil yang kalau dikerjakan 10 orang Pak tukang kita, bisa selesai dua bulan. Tapi mereka baru menyelesaikannya selama 6 bulan. Yang bisa kita ambil pelajaran adalah, memang infrastuktur di tanah air membutuhkan penanganan yang cepat karena berhubungan dengan sesegera mungkin digunakannya untuk kemaslahatan masyarakat, namun bila berkaca dengan jalur pantura yang hingga saat ini (entah sampai kapan) perbaikannya tiap tahun menelan dana hingga triliunan rupiah, apakah cepat itu berarti tepat?

Dalam lingkungan akademis, kita pun sama-sama tahu konsekuensi bila penelitian dikerjakan dengan kata lembur (teringat ‘stempel’ gate). Kebanyakan mahasiswa pun sudah terbiasa dengan SKS (sistem kebut semalam, bahkan sejam). Sekonyong-konyong akhirnya nyontek. Untuk menghindari itu, dari pengalaman saya kuliah di TU Wien, beberapa mata kuliah menggunakan ujian orally. Satu persatu ditanya. Memang butuh waktu yang lama tapi pemahaman mahasiswa teruji dengan baik. Dan sang dosen langsung menilai saat itu dan menanyakan apakah si teruji menerima nilai tersebut. Sarat akan pendidikan kejujuran dan transparansi. Tapi khusus bagi mahasiswa arsitektur, kebanyakan ini sudah menjadi obat manjur menyelesaikan pekerjaan studio. Celakanya di kita, iklim ini terbawa negatif dari mahasiswa dan akhirnya menjadi stigma bahwa semua pekerjaan bakal selesai kalau dikebut. Akhirnya kebanyakan méntal!

Epilog. Sudah saatnya kita melihat jauh ke depan untuk menyembuhkan penyakit mental ini. Kita sadar, tidak secara instant, se-instant mie instant. Tapi bertahap. Berkesinambungan, sesuai dengan makna logo 71 tahun kemerdekaan kita tahun ini. Saatnya kita bekerja, kerja yang nyata dan berkesinambungan menciptakan iklim produktifitas tinggi di negeri kita tercinta dengan integritas dan kejujuran. Hasilnya pun mustinya bisa sinambung hingga berpuluh-ratus tahun ke depan. Visi ini perlu demi Indonesia Merdeka. Merdeka dari mentalitas yang tidak membangun!

Merdeka!!!

Wina, Austria
Yusfan A. Yusran, ST., MT – Dosen/Alumni (http://yyusfan.wix.com/justfun)

H-1 menuju 17 Agustus 2016, 71 tahun.

instagram volgers kopen volgers kopen

instagram volgers kopen volgers kopen buy windows 10 pro buy windows 11 pro